Pemilu Dengan Politik Uang
Mendengar kata Pemilu, dibenak saya yaitu suatu prosesi pemungutan suara secara serentak yang tidak kalah penting didalam kehidupan bernegar...
Mendengar kata Pemilu, dibenak saya yaitu suatu prosesi pemungutan suara secara serentak yang tidak kalah penting didalam kehidupan bernegara karena dari prosesi tersebut akan melahirkan sosok pemimpin atau wakil rakyat, khususnya negara yang menganut sistem demokrasi atau kebanyakan orang menyebutnya dengan sebutan pesta demokrasi.
Sungguh miris pesta demokrasi yang terjadi di negeri ini, pesta demokrasi yang pada hakikat tujuannya akan melahirkan para wakil rakyat yang jujur dan bertanggung jawab atas kewajibannya sebagai wakil rakyat tetapi dewasa ini, para calon wakil rakyat yang nantinya akan duduk di sebuah gedung yang biasa disebut gedung DPR, DPD, dan DPRD sangat tidak mencerminkan hakikat tersebut. Yang ada hanyalah para calon wakil rakyat yang tidak jujur, entah mudah-mudahan tidak semua calon wakil rakyat yang seperti itu karena saya yakin masih ada beberapa yang hati dan pikirannya masih terbuka akan kepedulian terhadap rakyat dan negara ini.
Kembali lagi kepada para calon yang menyepelekan kejujuran, saking tidak jujurnya segala cara ia tempuh agar bisa memperoleh suara yang sebanyak-banyaknya. Salah satu cara yang ditempuh yaitu dengan politik uang. Intinya dengan politik uang mereka dengan mudah membeli hak suara rakyat dengan uang, entah dengan berbagai motivasi agar dapat memengaruhi warga yang memiliki hak pilih, tentu membutuhkan strategi agar dapat lebih banyak memperoleh suara pada hari pencoblosan.
Saya menuliskan apa yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Beberapa tahap yang harus dilalui, salah satunya yaitu mengumpullkan massa. Hanya dengan diiming-imingi uang ratusan ribu, dengan imbalan nama calon wakil rakyat tersebut harus dicoblos pada kotak suara. Sasaran utamanya yaitu orang-orang yang tergolong status sosialnya menengah ke bawah, pastinya akan tergiur dengan iming-imingan tersebut. Pada umumnya saya menemukan kebanyakan kaum mahasiswa yang turut terlibat dalam menjalankan politik uang tersebut. Sudah bisa kita bayangkan rusaknya sistem demokrasi yang telah dibuat serapih mungkin tetapi toh dengan uang sistem pun bisa disepelekan. Sungguh miris realitas yang terjadi hari ini, tak bisa dielakkan memang uang dapat membeli segalanya.
Post a Comment: